Tegang Bentang: Mengawal Catatan Sejarah Arsitektur Modern Indonesia
Oleh: Rifandi S. Nugroho | Rabu, 30 Mei 2018
Pada bulan November 2007, untuk pertama kalinya sebuah kompilasi sejarah arsitektur Indonesia dipublikasikan dalam wujud pameran dan buku. Beberapa peneliti dari dalam dan luar negeri terlibat sebagai kontributor untuk membedah topik yang tergolong segar kala itu: Arsitektur Modern Indonesia, di saat penulisan sejarah arsitektur Indonesia kebanyakan berkutat pada dua topik dominan, yang kolonial dan yang lokal.
Semua bermula di tahun 2006, saat Pusat Dokumentasi Arsitektur (PDA) sedang gencar melakukan riset dan pemetaan terhadap sejarah arsitektur Indonesia pada era sebelum dan setelah kemerdekaan. Di tengah perjalanannya, Netherlands Architecture Institute (kini menjadi Het Nieuwe Instituut) menawarkan PDA untuk menggelar pameran arsip koleksi mereka pada awal tahun 2007. Sebelumnya, koleksi arsip tersebut telah dipublikasikan sebanyak dua kali di kota Rotterdam, dalam sebuah pameran yang berjudul Modernity In The Tropic dan buku The Past In The Present Architecture In Indonesia suntingan Peter J.M. Nas dan Martin de Vletter.
Ketimbang menampilkan cerita yang sama dengan yang telah dipamerkan oleh NAI, PDA mengambil kesempatan itu untuk merajut ulang narasi sejarah arsitektur Indonesia dari berbagai sumber dengan satu benang merah, Tegang Bentang: Seratus Tahun Perspektif Arsitektur di Indonesia. Judul tersebut dipilih melalui serangkaian diskusi intensif oleh Nadia Purwestri, Febriyanti Suryaningsih, Mohammad Nanda Widyarta, dan Suryono Herlambang. Mereka kemudian memilih Amir Sidharta sebagai kurator pameran dan membentuk tim produksi pameran untuk bekerja dalam waktu sebelas bulan.
Sebagai judul, Tegang Bentang dpilih karena dinilai mewakili diskursus yang terjadi di Indonesia selama bertahun-tahun. Sebagaimana ungkap Amir Sidharta di dalam pengantar kuratorialnya:
“Sejarah Arsitektur Modern Indonesia terbangun dari ketegangan pemikiran dan perdebatan tentang gagasan-gagasan arsitektural yang seringkali bertentangan. Namun, justru ketegangan-ketegangan itulah yang sampai sekarang mengakibatkan wacananya terus berlanjut, dan membangun bentang sejarah Arsitektur Modern Indonesia tersebut.”
Alih-alih berujung pada temuan identitas tunggal, proses pencarian arsitektur Indonesia malah membentangkan dinamika yang tak pernah usai. Ketegangan menjadi kata kunci untuk menerjemahkan proses menjadi modern, suatu hal yang cukup kompleks untuk didefinisikan. Di Indonesia proses modernisasi didorong oleh upaya-upaya kemerdekaan - proses “menjadi bangsa Indonesia” - yang tidak tradisional dan tidak lagi kolonial, namun berwawasan nasional. Landasan politis ini digunakan untuk melihat hubungan yang terjadi pada arsitektur lima dasawarsa sebelum dan sesudah kemerdekaan. Penyusunan lini waktu perkembangan arsitektur diatur beririsan dengan peristiwa-peristiwa penting lokal maupun global. Sebuah strategi yang bertujuan untuk memperlebar persepsi publik terhadap arsitektur sehingga ia dapat diposisikan sepadan dengan peristiwa sejarah umum lainnya, bukan sekedar sebuah karya estetik yang otonom.
Pameran ini diadakan sebanyak dua kali, dimulai di Monumen Nasional berlanjut ke Erasmus Huis, Jakarta. Alih-alih sebagai uji coba, alasan utama di balik terselenggaranya pameran pertama di Monumen Nasional adalah keinginan dari pihak penyelenggara untuk membuka pameran arsip sejarah di dalam sebuah ruang yang memiliki kualitas sejarah pula. Sebuah usaha penubuhan gagasan melalui representasi tempat dan suasana. Di dalam ruang pamer, puluhan dokumen arsip direproduksi dan dicetak ulang ke dalam panel-panel besar, dilengkapi dengan maket bangunan yang sebagian besar diproduksi ulang. Khusus untuk bangunan Wisma Dharmala Jakarta, pihak penyelenggara diberi kesempatan oleh pemilik bangunan untuk memamerkan maket studi versi asli rancangan Paul Rudolph.
Strategi display yang digunakan cukup sederhana, menggunakan panel-panel dinding dan lantai berlatar putih glossy - yang mengisi ruangan hitam besar - tempat di mana objek pameran terpampang sebagai fokus utama. Beberapa maket diletakan pada masing-masing pedestal yang berdiri di atas bilah-bilah tiang berwarna hitam. Pada satu sisi dinding terdapat infografis sejarah dari tahun 1870 hingga 2000 berisi titik-titik peristiwa penting - mulai dari dihapusnya sistem tanam paksa dan dibukanya sistem penanaman modal swasta oleh pemerintah Hindia Belanda di tahun1870, Pencarian jatidiri arsitektur Indonesia di dekade 1920an, Repelita I Orde Baru di tahun 1972, runtuhnya Tembok Berlin di tahun 1989, jatuhnya rupiah di tahun 1998, dan lain-lain - yang membantu memetakan posisi arsitektur dalam pusaran dinamika ekonomi, sosial, politik lokal maupun global. Area pamer dipecah menjadi empat bagian mewakili masing-masing episode sejarah yang disusun kurator. Tiap bagian dihubungkan oleh garis merah dan hitam yang bersilangan, sebagai representasi dari keterkaitan tiap episode.
Episode pertama berjudul “Sintesa Arsitektur Hindia”, menceritakan konteks pencarian dan perdebatan yang terjadi dalam pembentukan masyarakat Hindia melalui sintesis antara timur dan barat. Beberapa koleksi yang ditampilkan antara lain karya arsitek Maclaine Pont, Berlage, A.F. Aalbers, Citroen, Thomas Karsten, Han Groenewegen, Wolff Schoemakers, Liem Bwan Tjie, dan lain-lain.
Episode kedua, “Modernisme Pembangunan Bangsa”, menampilkan karya-karya arsitek Sorensen, Friedrich Silaban, dan beberapa arsitek muda yang tergabung dalam kelompok ATAP - Bianpoen, Han Awal, Soewondo Bismo Soetedjo, dan Sujudi. Episode ini membahas modernisme di era Soekarno yang berkembang dalam beberapa konteks, Indonesia yang baru merdeka dan perang dingin yang sedang terjadi. Modernisme di sini lekat dengan angan-angan nation building Presiden Soekarno yang melibatkan pembayangan akan Indonesia yang bebas dan progresif.
Episode ketiga adalah “Keterakaran dan Lokalitas”, merujuk pada dekade 1960an saat terjadi kisah regionalisme pencarian jatidiri Indonesia. Dalam episode ini ditampilkan bagaimana lokalitas dicari. Bila Atelier 6 mencarinya melalui konsep tradisi, maka Y.B. Mangunwijaya mencarinya dengan menyentuh realitas kehidupan yang terjadi di suatu tempat secara totalitas. Ada pula karya tim perancang Gedung Pusat Administrasi Universitas Indonesia yang mencari ke-Indonesia-an melalui pendekatan rasionalis. Juga Paul Rudolph, arsitek yang menghadapkan arsitektur dengan konteks iklim sebagai sebuah pendekatan alternatif.
Episode keempat yakni “Penjelajahan yang Terus Berlanjut”. Bagian terakhir menceritakan tentang perkembangan terakhir yang masih berlangsung hingga dekade pertama tahun 2000an. Episode ini menampilkan AMI serta penerusnya, juga kelompok-kelompok arsitek muda di kota lain seperti FAM, SAMM, De Maya, dan BoomArs. Bukannya mencari identitas nasional, arsitek yang lebih muda ini mencoba menjelajahi kemungkinan desain untuk memenuhi kebutuhan sekitarnya.
Pameran ini diikuti dengan rangkaian kegiatan lain seperti diskusi, bedah buku, pemutaran film dokumenter, dan kunjungan ke bangunan-bangunan yang berkaitan dengan materi pameran, untuk menunjang pemahaman pengunjung tentang materi yang ada. Penyusunan materi pameran ini berjalan paralel dengan proses editorial buku Tegang Bentang, yang baru dapat terbit secara resmi pada tahun 2012. Arsip di dalam editorial ini merupakan koleksi foto dokumentasi kegiatan pameran, gambar ilustrasi, maket, dan film dokumenter yang diterbitkan pada tahun 2007.
Adanya pameran Tegang Bentang telah membuka ruang diskusi dan kajian lebih lanjut tentang perkembangan arsitektur modern di Indonesia. Meskipun narasi yang ada masih didominasi dari sudut pandang kota-kota besar saja, juga proporsi pembahasan tiap subjek yang belum cukup imbang, Tegang Bentang berhasil memetakan banyak catatan penting sejarah arsitektur yang sering dijadikan referensi sejarah hingga kini. Adanya lubang-lubang tersebut justru mengindikasikan bahwa kesempatan untuk menggali kembali sejarah arsitektur Indonesia masih sangat luas.


JUDUL | Maket kompleks Gedung CONEFO (Conference of the New Emerging Forces) - kini gedung MPR/DPR |
ARSITEK | Soejoedi Wirjoatmodjo |
PROYEK | Gedung MPR/DPR, Gedung CONEFO (Conference of the New Emerging Forces) |
DESKRIPSI | Maket gedung CONEFO (sekarang MPR/DPR) karya arsitek Soejoedi dalam Pameran Tengang Bentang, 27 November 2007 - 11 Januari 2008, di Erasmus Huis, Jakarta |
KREDIT | Pusat Dokumentasi Arsitektur |
TERBITAN | November 2007 |


JUDUL | Maket Gedung Perintis Kemerdekaan |
ARSITEK | Friedrich Silaban |
PROYEK | Gedung Perintis Kemerdekaan, Gedung Pola |
DESKRIPSI | Maket Gedung Perintis Kemerdekaan (dahulu gedung pola) karya arsitek Friedrich Silaban yang dipamerkan dalam pameran Tegang Bentang, 27 November 2007 - 11 Januari 2008, di Erasmus Huis, Jakarta |
KREDIT | Pusat Dokumentasi Arsitektur |
TERBITAN | November 2007 |


JUDUL | Maket Kota Inti rancangan Han Awal |
ARSITEK | Han Awal (Han Hoo Tjwan) |
PROYEK | Kota Inti, |
DESKRIPSI | Maket bangunan Kota Inti karya Han Awal yang dipamerkan dalam pameran Tegang Bentang, 27 November 2007 - 11 Januari 2008, di Erasmus Huis, Jakarta. Kota Inti ini rencananya dibangun di kawasan Glodok, namun urung terwujud karena peristiwa Gestapo |
KREDIT | Pusat Dokumentasi Arsitektur |
TERBITAN | November 2007 |


JUDUL | Panel Episode I: Sintesa untuk Arsitektur Hindia |
ARSITEK | Friedrich Silaban |
PROYEK | Gedung Perintis Kemerdekaan, Gedung Pola |
DESKRIPSI | Panel Episode I: Sintesa untuk Arsitektur Hindia dalam pameran Tegang Bentang, 27 November 2007 - 11 Januari 2008, di Erasmus Huis, Jakarta. Tampak maket Gedung Pola (sekarang gedung perintis kemerdekaan) |
KREDIT | Pusat Dokumentasi Arsitektur |
TERBITAN | November 2007 |


JUDUL | Maket Wisma Dharmala (kini Intiland Tower) |
ARSITEK | Paul Marvin Rudolph |
PROYEK | Intiland Tower, Wisma Dharmala |
DESKRIPSI | Maket Wisma Dharmala (kini Intiland Tower) yang dipamerkan dalam pameran Tegang Bentang, 27 November 2007 - 11 Januari 2008, di Erasmus Huis, Jakarta |
KREDIT | Pusat Dokumentasi Arsitektur |
TERBITAN | November 2007 |


JUDUL | Panel III: Lokalitas dan Ke-Indonesia-an |
ARSITEK | Adhi Moersid, Atelier Enam |
PROYEK | Masjid Said Naum, Masjid Said Naum |
DESKRIPSI | Panel III: Lokalitas dan Ke-Indonesia-an. Tampak maket Masjid Said Naum karya arsitek Adhi Moersid. Dipamerkan dalam pameran Tegang Bentang, 27 November 2007 - 11 Januari 2008, di Erasmus Huis, Jakarta |
KREDIT | Pusat Dokumentasi Arsitektur |
TERBITAN | November 2007 |


JUDUL | Maket Masjid Said Naum |
ARSITEK | Atelier Enam, Adhi Moersid |
PROYEK | Masjid Said Naum, Masjid Said Naum |
DESKRIPSI | Maket Masjid Said Naum karya arsitek Adhi Moersid. Dipamerkan dalam pameran Tegang Bentang, 27 November 2007 - 11 Januari 2008, di Erasmus Huis, Jakarta |
KREDIT | Pusat Dokumentasi Arsitektur |
TERBITAN | November 2007 |


JUDUL | Maket Gedung Dua 8 |
ARSITEK | Andra Matin |
PROYEK | Gedung Dua 8, Gedung Dua 8 |
DESKRIPSI | Maket Gedung Dua 8 karya arsitek Andra Matin yang dipamerkan dalam pameran Tegang Bentang, 27 November 2007 - 11 Januari 2008, di Erasmus Huis, Jakarta. Bangunan rancangan Andra Matin ini sempat berfungsi sebagai Ethnology Museum |
KREDIT | Pusat Dokumentasi Arsitektur |
TERBITAN | November 2007 |


JUDUL | Maket Gedung Dua 8 |
ARSITEK | Andra Matin |
PROYEK | Gedung Dua 8, Gedung Dua 8 |
DESKRIPSI | Maket Gedung Dua 8 karya arsitek Andra Matin, dengan latar panel episode IV Penjelajahan yang Terus Berlanjut. Dipamerkan dalam pameran Tegang Bentang, 27 November 2007 - 11 Januari 2008, di Erasmus Huis, Jakarta |
KREDIT | Pusat Dokumentasi Arsitektur |
TERBITAN | November 2007 |


JUDUL | Maket Rumah Tangkuban Perahu |
ARSITEK | Adi Purnomo |
PROYEK | Rumah Tangkuban Perahu, Rumah Tangkuban Perahu |
DESKRIPSI | Maket Rumah Tangkuban Perahu karya Adi Purnomo mengisi anjungan Episode IV: Penjelajahan yang Terus Berlanjut. Dipamerkan dalam pameran Tegang Bentang, 27 November 2007 - 11 Januari 2008, di Erasmus Huis, Jakarta |
KREDIT | Pusat Dokumentasi Arsitektur |
TERBITAN | November 2007 |


JUDUL | Ruang pamer Tegang Bentang di Erasmus Huis |
ARSITEK | Gunawan Tjahjono, Friedrich Silaban |
PROYEK | Gedung Perintis Kemerdekaan, Gedung Pola, Gedung Pusat Administrasi Universitas Indonesia, |
DESKRIPSI | Suasana ruang pamer Tegang Bentang di Erasmus Huis, Jakarta, 27 November 2007 - 11 Januari 2008. Tampak sejumlah maket bangunan yang mewakili masanya, seperti: Gedung Pola, Gedung Rektorat UI, Villa Isola dan lain-lain |
KREDIT | Pusat Dokumentasi Arsitektur |
TERBITAN | November 2007 |


JUDUL | Maket Gedung Pusat Administrasi Universitas Indonesia |
ARSITEK | Gunawan Tjahjono |
PROYEK | Gedung Pusat Administrasi Universitas Indonesia, |
DESKRIPSI | Konsep desain Gedung Pusat Administrasi Universitas Indonesia merupakan sebuah pencarian ke-Indonesia-an melalui pendekatan tipologis. Skema desain gedung ini merupakan komposisi empat buah tiang yang menyangga sebuah atap, sebuah tipologi Nusantara. Karya arsitek Gunawan Tjahjono yang dipamerkan dalam pameran Tegang Bentang, 27 November 2007 - 11 Januari 2008, di Erasmus Huis, Jakarta |
KREDIT | Pusat Dokumentasi Arsitektur |
TERBITAN | November 2007 |


JUDUL | Ruang pamer Tegang Bentang di Erasmus Huis |
DESKRIPSI | Sejumlah maket dan panel dipamerkan dalam pameran Tegang Bentang, 27 November 2007 - 11 Januari 2008, di Erasmus Huis, Jakarta |
KREDIT | Pusat Dokumentasi Arsitektur |
TERBITAN | November 2007 |


JUDUL | Salah satu panel Episode I. Sintesa untuk Arsitektur Hindia |
DESKRIPSI | Salah satu panel Episode I. Sintesa untuk Arsitektur Hindia dalam pameran Tegang Bentang, 27 Novmber 2007 - 11 Januari 2008, di Erasmus Huis, Jakarta |
KREDIT | Pusat Dokumentasi Arsitektur |
TERBITAN | November 2007 |


JUDUL | Nikolaos van Dam, Dubes Belanda untuk Indonesia (2005-2010) bersama Amir Sidharta selaku kurator pameran sedang memperhatikan panel lini masa arsitektur modern Indonesia. |
DESKRIPSI | Nikolaos van Dam (kanan), Dubes Belanda untuk Indonesia (2005-2010) bersama Amir Sidharta (kiri) selaku kurator pameran sedang memperhatikan panel lini masa arsitektur modern Indonesia. Pameran Tegang Bentang berlangsung pada tanggal 27 November 2007 hingga 11 Januari 2008 di Erasmus Huis Jakarta |
KREDIT | Pusat Dokumentasi Arsitektur |
TERBITAN | November 2007 |


JUDUL | Diskusi Tegang Bentang di Auditorium Erasmus Huis |
DESKRIPSI | Acara diskusi Tegang Bentang di Auditorium Erasmus Huis, tampak di antara tamu yang hadir Martien de Vletter. Pameran Tegang Bentang berlangsung pada tanggal 27 November 2007 hingga 11 Januari 2008 |
KREDIT | Pusat Dokumentasi Arsitektur |
TERBITAN | November 2007 |


JUDUL | Suasana pameran Tegang Bentang |
DESKRIPSI | Suasana pameran Tegang Bentang di Erasmus Huis, Jakarta. Beberapa pengunjung sedang melihat-lihat panel dan maket materi pameran. Pameran ini berlangsung pada 27 November 2007 hingga 11 Januari 2008 |
KREDIT | Pusat Dokumentasi Arsitektur |
TERBITAN | November 2007 |


JUDUL | Diskusi Umum Pameran Tegang Bentang |
DESKRIPSI | Kiri ke kanan: Nadia Purwestri, Nanda Widyarta, Amir Sidharta, dan sineas Harry Dagoe dalam diskusi untuk umum pameran Tegang Bentang, 27 Movember 2007 - 11 Januari 2008, di Erasmus Huis, Jakarta |
KREDIT | Pusat Dokumentasi Arsitektur |
TERBITAN | November 2007 |


JUDUL | Seremoni pembukaan pameran Tegang Bentang |
DESKRIPSI | Nikolaos van Dam (kiri) dan perwakilan pemerintah Indonesia (kanan) meresmikan pembukaan pameran tegang bentang |
KREDIT | Pusat Dokumentasi Arsitektur |
TERBITAN | November 2007 |


JUDUL | Ilustrasi gedung CONEFO (Conference Of New Emerging Forces |
ARSITEK | Soejoedi Wirjoatmodjo |
PROYEK | Gedung MPR/DPR, Gedung CONEFO (Conference of the New Emerging Forces) |
DESKRIPSI | Gambar ilustrasi rancangan gedung Conefo (sekarang gedung MPR/DPR) karya Arsitek Soejoedi. Diterbitkan di buku Tegang Bentang halaman 70 |
KREDIT | Pusat Dokumentasi Arsitektur |
TERBITAN | 1965 |


JUDUL | Permukiman di Kali Code |
ARSITEK | Yusuf Bilyarta Mangunwijaya |
PROYEK | Kali Code, Kali Code |
DESKRIPSI | Wajah rumah-rumah warga di Kali Code |
KREDIT | Pusat Dokumentasi Arsitektur |
TERBITAN | November 2007 |


JUDUL | Foto Maket Gedung MPR/DPR RI |
ARSITEK | Soejoedi Wirjoatmodjo |
PROYEK | Gedung MPR/DPR, Gedung CONEFO (Conference of the New Emerging Forces) |
DESKRIPSI | Foto maket gedung MPR/DPR yang dipindai dari buku Tegang Bentang halaman 62. Foto asli diambil dari buku Gedung MPR/DPR RI: Sejarah dan Perkembangannya, halaman 48, terbitan tahun 1995 |
KREDIT | Pusat Dokumentasi Arsitektur |
TERBITAN | 1965 |


JUDUL | Tampilan Presentasi Proyek CONEFO |
ARSITEK | Soejoedi Wirjoatmodjo |
PROYEK | Gedung MPR/DPR, Gedung CONEFO (Conference of the New Emerging Forces) |
DESKRIPSI | Tampilan presentasi proyek CONEFO karya Arsitek Soejoedi. Dpindai dari buku Gedung DPR/MPR RI: Sejarah dan Perkembangannya, 1995, halaman 24. Diterbitkan ulang dalam buku Tegang Bentang halaman 60, dalam Bagian II: Bayang-bayang modernisme |
KREDIT | Pusat Dokumentasi Arsitektur |
TERBITAN | 1965 |


JUDUL | Foto Maket Kota Inti (1963) Karya Han Awal |
ARSITEK | Han Awal (Han Hoo Tjwan) |
PROYEK | Kota Inti, |
DESKRIPSI | Foto Maket Kota Inti (1963) Karya Han Awal. Diterbitkan di dalam buku Tegang Bentang (2012) halaman 105 |
KREDIT |
Yori Antar Pusat Dokumentasi Arsitektur |
TERBITAN | 2012 |


JUDUL | Kantor Sekretariat ASEAN |
ARSITEK | Soejoedi Wirjoatmodjo |
PROYEK | Gedung Sekretariat ASEAN, |
DESKRIPSI | Foto Gedung Sekretariat ASEAN (1975-1981) di Jakarta. Koleksi PT Gubah Laras. Dipublikasikan dalam buku Tegang Bentang (2012) halaman 106-107 |
TERBITAN | 2012 |


JUDUL | Kedutaan Besar Prancis di Jakarta |
ARSITEK | Soejoedi Wirjoatmodjo |
PROYEK | Kedutaan Besar Perancis, Kedutaan Besar Perancis |
DESKRIPSI | Foto gedung kedutaan besar Prancis di Jakarta (1971-1973) karya arsitek Soejoedi. Dipublikasikan dalam buku Tegang Bentang (2012) halaman 109 |
TERBITAN | 2012 |


JUDUL | Kedutaan Besar RI di Kuala Lumpur (1975-1976) |
ARSITEK | Soejoedi Wirjoatmodjo |
PROYEK | Kedutaan Besar RI di Kuala Lumpur, Kedutaan Besar RI di Kuala Lumpur |
DESKRIPSI | Kedutaan Besar RI di Kuala Lumpur (1975-1976) karya arsitek Soejoedi. Dipublikasikan di dalam buku Tegang Bentang (2012), halaman 110 |
KREDIT | Pusat Dokumentasi Arsitektur |
TERBITAN | 2012 |


JUDUL | Interior Gedung CONEFO |
ARSITEK | Soejoedi Wirjoatmodjo |
PROYEK | Gedung MPR/DPR, Gedung CONEFO (Conference of the New Emerging Forces) |
DESKRIPSI | Sebuah sudut di bawah kubah yang terbelah. Detail foto yang terdapat pada buku Gedung DPR/MPR RI: Sejarah dan Perkembangannya (1995), halaman 80. Diterbitkan kembali dalam buku Tegang Bentang (2012), halaman 63 |
KREDIT | Pusat Dokumentasi Arsitektur |
TERBITAN | 1965 |


JUDUL | Rumah Sakit Pertamina Cilacap |
ARSITEK | Soewondo Sutedjo |
PROYEK | Rumah Sakit Pertamina Cilacap, Rumah Sakit Pertamina Cilacap |
DESKRIPSI | Rumah Sakit Pertamina Cilacap (1975) karya Suwondo Sutedjo. Diterbitkan di dalam buku Tegang Bentang (2012), halaman 113 |
TERBITAN | 2012 |


JUDUL | Balai Warga Kali Code |
ARSITEK | Yusuf Bilyarta Mangunwijaya |
PROYEK | Kali Code, Kali Code |
KREDIT | Pusat Dokumentasi Arsitektur |


JUDUL | Kali Code |
ARSITEK | Yusuf Bilyarta Mangunwijaya |
PROYEK | Kali Code, Kali Code |
KREDIT | Pusat Dokumentasi Arsitektur |

JUDUL | Rumah Angin part 1 |
DESKRIPSI | Video dokumentasi yang dibuat pada tahun 2007 untuk pameran Tegang Bentang, 27 November 2007 - 11 Januari 2008, di Erasmus Huis, Jakarta |
KREDIT | Pusat Dokumentasi Arsitektur; Harry Dagoe |

JUDUL | Rumah Angin part 2 |
DESKRIPSI | Video dokumentasi yang dibuat pada tahun 2007 untuk pameran Tegang Bentang, 27 November 2007 - 11 Januari 2008, di Erasmus Huis, Jakarta |
KREDIT | Pusat Dokumentasi Arsitektur; Harry Dagoe |

JUDUL | Rumah Angin part 3 |
DESKRIPSI | Video dokumentasi yang dibuat pada tahun 2007 untuk pameran Tegang Bentang, 27 November 2007 - 11 Januari 2008, di Erasmus Huis, Jakarta |


JUDUL | Bedah Buku Tegang Bentang |
ARSITEK | Josef Prijotomo, Setiadi Sopandi |
DESKRIPSI | Setiadi Sopandi dan Josef Prijotomo sedang berdiskusi dalam acara bedah buku Tegang Bentang di Aksara Kemang, Jakarta, 28 November 2007 |
KREDIT | Pusat Dokumentasi Arsitektur |
TERBITAN | 28 November 2007 |


JUDUL | Bedah Buku Tegang Bentang |
ARSITEK | Han Awal (Han Hoo Tjwan) |
DESKRIPSI | Han Awal dalam acara bedah buku Tegang Bentang di Aksara Kemang, Jakarta, 28 November 2007 |
KREDIT | Pusat Dokumentasi Arsitektur |
TERBITAN | 28 November 2007 |


JUDUL | Bedah Buku Tegang Bentang |
DESKRIPSI | Suasana bedah buku Tegang Bentang di Aksara Kemang, Jakarta, 28 November 2007 |
KREDIT | Pusat Dokumentasi Arsitektur |
TERBITAN | 28 November 2007 |


JUDUL | Bedah Buku Tegang Bentang |
ARSITEK | Adhi Moersid |
DESKRIPSI | Adhi Moersid sedang berbicara dalam acara diskusi bedah buku Tegang Bentang di Aksara Kemang, Jakarta, 28 November 2007 |
KREDIT | Pusat Dokumentasi Arsitektur |
TERBITAN | 27 November 2007 |


JUDUL | Suasana Pameran Tegang Bentang |
DESKRIPSI | Suasana pameran Tegang Bentang di Monumen Nasional Jakarta, 2 November 2007 |
KREDIT | Pusat Dokumentasi Arsitektur |
TERBITAN | 2 November 2007 |